Kamis, 10 Desember 2009

PERUBAHAN ANATOMIK ORGAN TUBUH PADA PENUAAN

di kutip dari : Prof. Dr. Didik Gunawan Tamtomo, dr. PAK, MM, M.Kes

Menua adalah suatu proses menghilangnya kemampuan jaringan untuk memperbaiki dan mengganti diri serta memper¬tahankan struktur dan fungsi normal. Jadi pada dasarnya pada proses penuaan akan terjadi perubahan-perubahan anatomis pada organ-organ tubuh. Dalam kenyataannya sulit untuk mem¬bedakan apakah suatu abnormalitas disebabkan oleh proses menua atau proses penyakit. Pembedaan ini sangat penting untuk mem¬berikan pelayanan kesehatan yang tepat pada usia lanjut, karena harus dihindari pemberian obat pada abnormalitas yang diakibatkan proses menua yang normal. Dengan makin lanjutnya usia, maka penurunan anatomik dan fungsi organ semakin besar. Peneliti Andres dan Tobin mengintroduksi hukum 1% yang menyatakan bahwa fungsi organ menurun sebanyak 1 % setiap tahunnya setelah usia 30 tahun.
Sering dikatakan bahwa anatomi adalah ilmu yang mati dan statis. Kenesi mengatakan: Anatomy is an exhausted science, with no future in investigation and rooted in the past. Tetapi sebenarnya anatomi adalah ilmu yang sangat dinamis yang berkembang seiring dengan kehidupan manusia bahkan pada setiap tahap kehidupan terjadi perubahan anatomis. Pada proses penuaan organ-organ tubuh berubah sejalan berjalannya waktu. Artinya akan terjadi perubahan gambaran anatomis organ tubuh dari bayi sampai ke manula. Contoh yang sederhana papilla mama (puting susu), didalam buku ajar anatomi, literatur bahkan dosen anatomi selalu mengajarkan bahwa papilla mama terletak setinggi IC V, tetapi bila terletak setinggi IC VIII apakah ini salah? karena pada wanita yang telah berkali kali menyusui letak papilla akan turun dan ini normal bukan penyakit, pada orang yang berusia 80 th papillanya dapat turun setinggi Umbilicus (pusar). Ini membuktikan bahwa antomi bukanlah ilmu yang statis maka didalam pengajaran anatomi pengajar harus cerdik dan tidak kaku supaya proses belajar tidak menakutkan dan tidak membosankan karena anatomi terkenal dengan sebutan ilmu yang menakutkan karena mahasiswa langsung berhadapan dengan jasad manusia sebenarnya.

Perubahan-Perubahan Anatomik Organ Tubuh pada Penuaan
I. Perubahan Anatomik pada Sistem Integumen
1. Kulit

2. Rambut
a. Pertumbuhan menjadi lambat, lebih halus dan jumlahnya sedikit.
b. Rambut pada alis, lubang hidung dan wajah sering tumbuh lebih panjang.
c. Rambut memutih.
d. Rambut banyak yang rontok.
3. Kuku
a. Pertumbuham kuku lebih lambat, kecepatan pertumbuhan menurun 30-50% dari orang dewasa.
b. Kuku menjadi pudar.
c. Warna kuku agak kekuningan.
d. Kuku menjadi tebal, keras tapi rapuh.
e. Garis-garis kuku longitudinal tampak lebih jelas. Kelainan ini dilaporkan terdapat pada 67% lansia berusia 70 tahun.

II. Perubahan Anatomik pada Sistema Muskuloskeletal
Massa tulang kontinu sampai mencapai puncak pada usia 30-35 tahun setelah itu akan menurun karena disebabkan berku¬rang¬nya aktivitas osteoblas sedangkan aktivitas osteoklas tetap normal. Secara teratur tulang mengalami turn over yang dilaksana¬kan melalui 2 proses yaitu; modeling dan remodeling, pada ke¬adaan normal jumlah tulang yang dibentuk remodeling sebanding dengan tulang yang dirusak. Ini disebut positively coupled jadi masa tulang yang hilang nol. Bila tulang yang dirusak lebih banyak terjadi kehilangan masa tulang ini disebut negatively coupled yang terjadi pada usia lanjut.
Dengan bertambahnya usia terdapat penurunan masa tulang secara linier yang disebabkan kenaikan turn over pada tulang sehingga tulang lebih pourus. Pengurangan ini lebih nyata pada wanita, tulang yang hilang kurang lebih 0,5 sampai 1% per tahun dari berat tulang pada wanita pasca menopouse dan pada pria diatas 80 tahun, pengurangan tulang lebih mengenai bagian trabekula dibanding dengan kortek. Pada pemeriksaan histologi wanita pasca menopouse dengan osteoporosis spinal hanya mempunyai trabekula kurang dari 14%. Selama kehidupan laki-laki kehilangan 20-30% dan wanita 30-40% dari puncak massa tulang.
Pada sinofial sendi terjadi perubahan berupa tidak ratanya permukaan sendi terjadi celah dan lekukan dipermukaan tulang rawan. Erosi tulang rawan hialin menyebabkan pembentukan kista di rongga sub kondral. Ligamen dan jaringan peri artikuler menga¬lami degenerasi Semuanya ini menyebabkan penurunan fungsi sendi, elastisitas dan mobilitas hilang sehingga sendi kaku, kesu¬litan dalam gerak yang rumit
Perubahan yang jelas pada sistem otot adalah berkurangnya masa otot terutama mengenai serabut otot tipe II. Penurunan ini disebabkan karena otropi dan kehilangan serabut otot. Perubahan ini menyebabkan laju metabolik basal dan laju komsumsi oksigen maksimal berkurang. Otot menjadi mudah lelah dan kecepatan laju kontraksi melambat. Selain penurunan masa otot juga dijumpai berkurangnya rasio otot dan jaringan lemak.

III. Perubahan anatomik pada sistema kardiovaskuler
1. Jantung (Cor)
Elastisitas dinding aorta menurun dengan bertambahnya usia. Disertai dengan bertambahnya kaliber aorta. Perubahan ini terjadi akibat adanya perubahan pada dinding media aorta dan bukan merupakan akibat dari perubahan intima karena ateros¬kle¬rosis. Perubahan aorta ini menjadi sebab apa yang disebut isolated aortic incompetence dan terdengarnya bising pada apex cordis.
Penambahan usia tidak menyebabkan jantung mengecil (atrofi) seperti organ tubuh lain, tetapi malahan terjadi hipertropi. Pada umur 30-90 tahun massa jantung bertambah (± 1gram/tahun pada laki-laki dan ± 1,5 gram/tahun pada wanita).
Pada daun dan cincin katup aorta perubahan utama terdiri dari berkurangnya jumlah inti sel dari jaringan fibrosa stroma katup, penumpukan lipid, degenerasi kolagen dan kalsifikasi jaringan fibrosa katup tersebut. Daun katup menjadi kaku, peruba¬han ini menyebabkan terdengarnya bising sistolik ejeksi pada usia lanjut. Ukuran katup jantung tampak bertambah. Pada orang muda katup antrioventrikular lebih luas dari katup semilunar. Dengan bertambahnya usia terdapat penambahan circumferensi katup, katup aorta paling cepat sehingga pada usia lanjut menyamai katup mitral, juga menyebabkan penebalan katup mitral dan aorta. Peru¬bahan ini disebabkan degenerasi jaringan kalogen, pengecilan ukuran, penimbunan lemak dan kalsifikasi. Kalsifikasi sering ter¬jadi pada anulus katup mitral yang sering ditemukan pada wanita. Perubahan pada katup aorta terjadi pada daun atau cincin katup. Katup menjadi kaku dan terdengar bising sistolik ejeksi.

2. Pembuluh Darah Otak
Otak mendapat suplai darah utama dari Arteria Karotis Interna dan a.vertebralis. Pembentukan plak ateroma sering di¬jumpai didaerah bifurkatio kususnya pada pangkal a.karotis interna, Sirkulus willisii dapat pula terganggu dengan adanya plak ateroma juga arteri-arteri kecil mengalami perubahan ateromatus termasuk fibrosis tunika media hialinisasi dan kalsifikasi. Walaupun berat otak hanya 2% dari berat badan tetapi mengkomsumsi 20% dari total kebutuhan oksigen komsumsion. Aliran darah serebral pada orang dewasa kurang lebih 50cc/100gm/menit pada usia lanjut menurun menjadi 30cc/100gm/menit.
Perubahan degeneratif yang dapat mempengaruhi fungsi sistem vertebrobasiler adalah degenerasi discus veterbralis (kadar air sangat menurun, fibrokartilago meningkat dan perubahan pada mukopoliskharid). Akibatnya diskus ini menonjol ke perifer men¬dorong periost yang meliputinya dan lig.intervertebrale menjauh dari corpus vertebrae. Bagian periost yang terdorong ini akan mengalami klasifikasi dan membentuk osteofit. Keadaan seperti ini dikenal dengan nama spondilosis servikalis.
Discus intervertebralis total merupakan 25% dari seluruh collumna vertebralis sehingga degenerasi diskus dapat mengakibat¬kan pengurangan tinggi badan pada usia lanjut. Spondilosis servi¬kalis berakibat 2 hal pada a.vertebralis, yaitu:
a. Osteofit sepanjang pinggir corpus vetebrales dan pada posisi tertentu bahkan dapat mengakibatkan oklusi pem¬buluh arteri ini.
b. Berkurangnya panjang kolum servikal berakiabat a.verter¬balies menjadi berkelok-kelok. Pada posisi tertentu pembu¬luh ini dapat tertekuk sehingga terjadi oklusi.
Dengan adanya kelainan anatomis pembuluh darah arteri pada usia lanjut seperti telah diuraikan diatas, dapat dimengerti bahwa sirkulasi otak pada orang tua sangat rentan terhadap peru¬bahan-perubahan, baik perubahan posisi tubuh maupun fungsi jantung dan bahkan fungsi otak

3. Pembuluh Darah Perifer.
Arterosclerosis yang berat akan menyebabkan penyumbatan arteria perifer yang menyebabkan pasokan darah ke otot-otot tungkai bawah menurun hal ini menyebabkan iskimia jaringan otot yang menyebabkan keluhan kladikasio.

IV. Perubahan Anatomik pada Sistem Pernafasan (System Respiratorius)
1. Dinding dada: Tulang-tulang mengalami osteoporosis, rawan mengalami osifikasi sehingga terjadi perubahan bentuk dan ukuran dada. Sudut epigastrik relatif mengecil dan volume rongga dada mengecil.
2. Otot-otot pernafasan: Musuculus interkostal dan aksesori mengalami kelemahan akibat atrofi.
3. Saluran nafas: Akibat kelemahan otot, berkurangnya jaring¬an elastis bronkus dan aveoli menyebabkan lumen bronkus mengecil. Cicin rawan bronkus mengalami pengapuran.
4. Struktur jaringan parenkim paru: Bronkiolus, duktus alveoris dan alveolus membesar secara progresip, terjadi emfisema senilis. Struktur kolagen dan elastin dinding saluran nafas perifer kualitasnya mengurang sehingga me¬nyebabkan elasti¬sitas jaringan parenkim paru mengu¬rang. Penurunan elastisitas jaringan parenkim paru pada usia lanjut dapat karena menurun¬nya tegangan permukaan akibat pengurangan daerah permu¬kaan alveolus.
Perubahan anatomi tersebut menyebabkan gangguan fisiologi pernapasan sebagai berikut:
a. Gerak pernafasan: adanya perubahan bentuk, ukuran dada, maupun volume rongga dada akan merubah mekanika per¬nafasan menjadi dangkal, timbul gangguan sesak nafas, lebih-lebih apabila terdapat deformitas rangka dada akibat penuaan.
b. Distribusi gas: perubahan struktur anatomik saluran nafas akan menimbulkan penimbulkan penumpukan udara dalam alveolus (air trapping) ataupun gangguan pendistribusian gangguan udara nafas dalam cabang bronkus.
c. Volume dan kapasitas paru menurun: hal ini disebabkan karena beberapa faktor: (1) kelemahan otot nafas, (2) elastisitas jaringan parenkim paru menurun, (3) resistensi saluaran nafas (menurun sedikit). Secara umum dikatakan bahwa pada usia lanjut terjadi pengurangan ventilasi paru.
d. Gangguan transport gas: pada usia lanjut terjadi penurunan PaO2 secara bertahap, penyebabnya terutama disebabkan oleh adanya ketidakseimbangan ventilasi-perfusi. Selain itu diketahui bahwa pengambilan O2 oleh darah dari alveoli (difusi) dan transport O2 ke jaringan berkurang, terutama terjadi pada saat melakukan olahraga. Penurunan pengam¬bil¬an O2 maksimal disebabkan antara lain karena: (1) ber¬bagi perubahan pada jaringan paru yang menghambat difusi gas, dan (2) kerena bertkurangnya aliran darah ke paru akibat turunnyan curah jantung.
e. Gangguan perubahan ventilasi paru: pada usia lanjut terjadi gangguan pengaturan ventilasi paru, akibat adanya penu¬runan kepekaan kemoreseptor perifer, kemoreseptor sentral atupun pusat-pusat pernafasan di medulla oblongata dan pons terhadap rangsangan berupa penurunan PaO2, peninggian PaCO2, Perubahan pH darah arteri dan sebagainya.

V. Perubahan Anatomik pada Sistem Pencernaan (System Digestivus)
1. Rongga Mulut (Cavum Oris)
a. Gigi (Dente)s
• Atrial: Hilangnya jaringan gigi akibat fungsi pengunyah yang terus menerus. Dimensi vertikal wajah menjadi lebih pendek sehingga merubah penampilan /estetik fungsi pengunyah.
• Meningkatkan insiden karies terutama bagian leher gigi dan akar, karies sekunder di bawah tambalan lama.
• Jaringan penyangga gigi mengalami kemunduran sehingga gigi goyang dan tanggal.
b. Muskulus
Koordinasi dan kekuatan muskulus menurun sehingga terjadi pergerakan yang tidak terkontrol dari bibir, lidah dan rahang orafacial dyskinesis.
c. Mukosa
Jaringan mukosa mengalami atrofi dengan tanda-tanda tipis, merah, mengkilap, dan kering.
d. Lidah (Lingua)
Manifestasi yang sering terlihat adalah atrofi papil lidah dan terjadinya fisura-fisura. Sehubungan dengan ini maka ter¬jadi perubahan persepsi terhadap pengecapan. Akibatnya orang tua sering mengeluh tentang kelainan yang dirasakan terhadap rasa tertentu misalnya pahit dan asin. Dimensi lidah biasanya membesar dan akibat kehilangan sebagian besar gigi, lidah besentuhan dengan pipi waktu mengunyah, menelan dan berbicara.
e. Kelenjar liur (Glandula Salivarius)
Terjadi degenerasi kelenjar liur, yang mengakibatkan sekresi dan viskositas saliva menurun.
f. Sendi Temporo Mandibular (Art Temporo Mandibularis)
Perubahan pada sendi Temporo Mandibularis sering sudah terjadi pada usia 30-50 tahun. Perubahan pada sendi Temporo Mandibularis ini akibat dari proses degenerasi. Dengan manifestasi adanya TM joint sound, melemahnya otot-otot mengunyah sendi, sehingga sukar membuka mulut secara lebar.
g. Tulang Rahang (Os Maxilare dan Os Mandibulare)
Terdapat resorbsi dan alveolar crest sampai setinggi 1 cm terutama pada rahang tanpa gigi atau setetelah pencabutan.
2. Lambung (Ventriculus)
Terjadi atrofi mukosa, atrofi sel kelenjar dan ini menyebabkan sekresi asam lambung, pepsin dan faktor intrinsik berkurang. Ukuran lambung pada lansia menjadi lebih kecil, sehingga daya tampung makanan berkurang. Proses pengubahan protein men¬jadi pepton terganggu. Karena sekresi asam lambung berkurang rangsang rasa lapar juga berkurang. Absobsi kobalamin menurun sehingga konsentrasi kobalamin lebih rendah.
3. Usus halus (Intestinum Tenue)
Mukosa usus halus mengalami atrofi, sehingga luas permukaan berkurang jumlah vili berkurang yang menyebebabkan penu¬run¬an proses absorbsi. Di daerah duodenum enzim yang di¬hasil¬kan oleh pancreas dan empedu menurun, sehingga meta¬bolisme karbohidrat, protein dan lemak menjadi tidak sebaik sewaktu muda. Keadaan seperti ini menyebabkan gangguan yang disebut sebagai maldigesti dan mal absorbsi.
4. Pankreas (Pancreas)
Produksi ensim amylase, tripsin dan lipase menurun sehingga kapasitas metabolisme karbohidrat, protein dan lemak juga menurun. Pada lansia sering terjadi pankreatitis yang dihubung¬kan dengan batu empedu. Batu empedu yang menyumbat ampula vateri menyebabkan oto-digesti parenkim pankreas oleh ensim elastase dan fosfolipase-A yang diaktifkan oleh tripsin dan/atau asam empedu.
5. Hati (Hepar)
Ukuran hati mengecil dan sirkulasi portal juga menurun pada usia kurang dari 40 tahun 740 ml/menit, pada usia diatas 70 tahun menjadi 595 ml/menit.
Hati berfungsi sangat penting dalam proses metabolisme karbohidrat, protein dan lemak. Disamping juga memegang peranan besar dalam proses detoksikasi, sirkulasi, penyimpanan vitamin, konyugasi, bilirubin dan lain sebagainya. Dengan meningkatnya usia secara histologik dan anatomik akan terjadi perubahan akibat atrofi sebagian besar sel, berubah bentuk menjadi jaringan fibrous sehingga menyebabkan penurunan fungsi hati. Hal ini harus di ingat terutama dalam pemberian obat-obatan.
6. Usus Besar dan Rektum (Colon dan Rectum)
Pada colon pembuluh darah menjadi ber kelok-kelok yang menyebabkan motilitas colon menurun, berakibat absobsi air dan elektrolit meningkat sehingga faeses menjadi lebih keras sering terjadi konstipasi.

VI. Perubahan Anatomik pada Sistema Urinarius
1. Ginjal (Ren)
Setelah umur 30 tahun mulai terjadi penurunan kemampuan ginjal dan pada usia 60 tahun kemampuan tingggal 50% dari umur 30 tahun, ini disebabkan berkurangnya populasi nefron dan tidak adanya kemampuan regenerasi. Dengan menurunnya jumlah popu¬lasi nefron akan terjadi penurunan kadar renin yang menyebabkan hipertensi.
Terjadi penebalan membrana basalis kapsula Bowman dan ter¬ganggunya permeabilitas, perubahan degeneratif tubuli, perubahan vaskuler pembuluh darah kecil sampai hialinisasi arterioler dan hiperplasia intima arteri menyebabkan disfungsi endotel yang berlanjut pada pembentukan berbagai sitokin yang menyebabkan resobsi natrium ditubulus ginjal.
Efisien ginjal dalam pembuangan sisa metabolisme ter¬ganggu dengan menurunnya massa dan fungsi ginjal
- jumlah neufron tinggal 50% pada akhir rentang hidup rata-rata
- aliran darah ginjal tinggal 50% pada usia 75 tahun
- tingkat filtrasi glomerlusdan kapasitas ekskresi maksimum menurun

2. Kandung Kemih (Vesica Urinarius)
Dengan bertambahnya usia kapasitas kandung kemih menu¬run, sisa urin setelah selesai berkemih cenderung meningkat dan kontraksi otot kandung kemih yang tidak teratur sering terjadi keadaan ini menyebabkan sering berkemih dan kesulitan menahan keluarnya urin. Pada wanita pasca menopouse karena menipisnya mukosa disertai dengan menurunnya kapasitas, kandung kemih lebih rentan dan sensitif terhadap rangsangan urine, sehingga akan berkontraksi tanpa dapat dikendalikan keaadan ini disebut over active bladder. Gangguan ini mengenai sekurang-kurangnya 50 juta orang di negara yang berkembang.
Normal berkemih seorang sehat dalam waktu 24 jam adalah: 1100-1800 cc, frekuensi kurang 8 kali, nokturna kurang 2 kali, volume berkemih rata-rata 200-400 cc, dan volume maksi¬mum berkemih 400-600 cc.

VII. Perubahan Anatomik pada Sistema Genitalia
A. Wanita
Dengan berhentinya produksinya hormon estrogen, geni¬talia interna dan eksterna berangsur-angsur mengalami atrofi.
1. Vagina
• Vagina mengalami kontraktur, panjang dan lebar vagina mengalami pengecilan.
• Fornises menjadi dangkal, begitu pula serviks tidak lagi menonjol ke dalam vagina. Sejak klimakterium, vagina berangsur-angsur mengalami atropi, meskipun pada wanita belum pernah melahirkan. Kelenjar seks mengecil dan ber¬henti berfungsi. Mukosa genitalia menipis begitu pula jaringan sub-mukosa tidak lagi mempertahankan elastisitas¬nya akibat fibrosis.
• Perubahan ini sampai batas tertentu dipengaruhi oleh keber¬langsungan koitus, artinya makin lama kegiatan tersebut dilakukan kurang laju pendangkalan atau pengecilan geni¬talia eksterna.

2. Uterus
Setelah klimaterium uterus mengalami atrofi, panjangnya menyusut dan dindingnya menipis, miometrium menjadi sedikit dan lebih banyak jaringan fibrotik. Serviks menyusut tidak menon¬jol, bahkan lama-lama akan merata dengan dinding jaringan.

3. Ovarium
Setelah menopause, ukuran sel telur mengecil dan permu¬kaannya menjadi “keriput” sebagai akibat atrofi dari medula, bukan akibat dari ovulasi yang berulang sebelumnya, permukaan ovarium menjadi rata lagi seperti anak oleh karena tidak terdapat folikel. Secara umum, perubahan fisik genetalia interna dan eksterna dipengaruhi oleh fungsi ovarium. Bila ovarium berhenti berfungsi, pada umumnya terjadi atrofi dan terjadi inaktivitas organ yang pertumbuhannya oleh hormon estrogen dan progesteron.

4. Payudara (Glandula Mamae)
Payudara akan menyusut dan menjadi datar, kecuali pada wanita yang gemuk, dimana payudara tetap besar dan menggan¬tung. Keadaan ini disebabkan oleh karena atrofi hanya mem¬pengaruhi kelenjar payudara saja.
Kelenjar pituari anterior mempengaruhi secara histologik maupun fungsional, begitu pula kelenjar tiroid dan adrenal menjadi “keras” dan mengkibatkan bentuk tubuh serupa akromegali ringan. Bahu menjadi gemuk dan garis pinggang menghilang. Kadang timbul pertumbuhan rambut pada wajah. Rambut ketiak, pubis mengurang, oleh karena pertumbuhannya dipengaruhi oleh kelenjar adrenal dan bukan kelenjar ovarium. Rambut kepala menjadi jarang. Kenaikan berat badan sering terjadi pada masa klimakterik.

B. Pria
1. Prostat
Pembesaran prostat merupakan kejadian yang sering pada pria lansia, gejala yang timbul merupakan efek mekanik akibat pembesaran lobus medius yang kemudian seolah-olah bertindak sebagai katup yang berbentuk bola (Ball Valve Effect). Disamping itu terdapat efek dinamik dari otot polos yang merupakan 40% dari komponen kelenjar, kapsul dan leher kantong kemih, otot polos ini dibawah pengaruh sistem alfa adrenergik. Timbulnya nodul mikros¬kopik sudah terlihat pada usia 25-30 tahun dan terdapat pada 60% pria berusia 60 tahun, 90% pada pria berusia 85 tahun, tetapi hanya 50% yang menjadi BPH Makroskopik dan dari itu hanya 50% berkembang menjadi BPH klinik yang menimbulkan problem medik.
Kadar dehidrosteron pada orang tua meningkat karena meningkatnya enzim 5 alfa reduktase yang mengkonfersi tetosteron menjadi dehidro steron. Ini yang dianggap menjadi pendorong hiperplasi kelenjar, otot dan stroma prostat. Sebenarnya selain proses menua rangsangan androgen ikut berperan timbulnya BPH ini dapat dibuktikan pada pria yang di kastrasi menjelang pubertas tidak akan menderita BPH pada usia lanjut.

2. Testis
Penuaan pada pria tidak menyebabkan berkurangnya ukuran dan berat testis tetapi sel yang memproduksi dan memberi nutrisi (sel Leydic) pada sperma berkurang jumlah dan aktifitasnya sehingga sperma berkurang sampai 50% dan testoteron juga menurun. Hal ini menyebabkan penuruna libido dan kegiatan sex yang jelas menurun adalah multipel ejakulasi dan perpanjangan periode refrakter. Tetapi banyak golongan lansia tetap menjalankan aktifitas sexsual sampai umur lanjut.

VIII. Perubahan Anatomik pada Sistem Imun.
1. Kelenjar Timus (Glandula Thymus)
Pemeriksaan anatomis menunjukkan bahwa ukuran maksi¬mal kelenjar Timus terdapat pada usia pubertas sesudahnya akan mengalami proses pengecilan. Pada usia 40-50 tahun jaringan ke¬lenjar tinggal 5-10%. Diketahui bahwa Timus merupakan kelenjar endokrin sekaligus tempat deferensiasi sel limfosit T menjadi sel imunokompeten
Involusi ditandai dengan adanya infiltrasi jaringan fibrous dan lemak. Sentrum Germinativum jumlahnya berkurang dan menjadi fibrotik serta kalsifikasi. Konsekwensinya kemampuan kelenjar Timus untuk mendewasakan sel T berkurang.

2. Limpa (Lien), kelenjar Limfe
Tidak ada perubahan morfologis yang berarti hanya menun¬juk¬kan turunnya kemampuan berproliferasi dan terdapat sedikit pembesaran limpa.

IX. Perubahan Anatomik pada sistema Syaraf Pusat (Systema Nervosum Centrale).
1. Otak
Berat otak kurang lebih 350 gram pada saat kelahiran kemudian meningkat menjadi 1,375 gram pada usia 20 tahun, berat otak mulai menurun pada usia 45-50 tahun penurunan ini kurang lebih 11% dari berat maksimal. Berat dan volume otak berkurang rata-rata 5-10% selama umur 20-90 tahun. Otak mengandung lebih 100 million sel termasuk diantarnya sel neuron yang berfungsi menyalurkan impuls listrik dari susunan saraf pusat. pada penuaan otak kehilangan 100.000 neuron /tahun. Neuron dapat mengirim signal kepada beribu-ribu sel lain dengan kecepatan 200 mil/jam.
Pada orang tua Sulci pada permukaan otak melebar sedang¬kan girus akan mengecil. Pada orang muda rasio antara subtansia grisea dan substansia alba 1 : 28, pada orang tua menurun menjadi 1 : 13. Terjadi penebalan meningeal, atropi cerebral (berat otak menurun 10% antara usia 30-70 tahun. Secara berangsur-angsur tonjolan dendrit dineuron hilang disusul membengkaknya batang dendrit dan batang sel.
Secara progresif terjadi fragmentasi dan kematian sel. Pada semua sel terdapat deposit lipofusin (pigment wear &tear yang terbentuk di sitoplasma, kemungkinan berasal dari lisosom atau mitokondria). RNA, Mitokondria dan enzym sitoplasma meng¬hilang, inklusi dialin eosinofil dan badan Levy, neurofibriler menjadi kurus dan degenerasi granulovakuole. korpora amilasea terdapat dimana-mana dijaringan otak.
Berbagai perubahan degeneratif ini meningkat pada indi¬vidu lebih dari 60 tahun dan menyebabkan gangguan persepsi, analisis dan integrasi, input sensorik menurun menyebabkan gangguan kesadaran sensorik (nyeri sentuh, panas, dingin posisi sendi). Tampilan sensori motor untuk menghasilkan ketepatan melambat. Gangguan mekanisme mengontrol postur tubuh dan daya anti grafitasi menurun, keseimbangan dan gerakan menurun. Daya pemikiran abstrak menghilang, memori jangka pendek dan kemampuan belajar menurun, lebih kaku dalam memandang persoalan, lebih egois dan introvet.

2. Saraf Otonom
Pusat pengendali saraf otonom adalah hipotalamus. Peneli¬tian tentang berbagai gangguan fungsi hipotalamus pada usia lanjut saat ini sedang secara intensif dilakukan di berbagai senter, yang antara lain diharapkan bisa mengungkap berbagai penyebab terjadi¬nya gangguan otonom pada lansia.
Beberapa hal yang dikatakan sebagai penyebab terjadinya gangguan otonom pada usia lanjut adalah penurunan asetilkolin, atekolamin, dopamin, noradrenalin.
• Perubahan pada ‘neurotransmisi” pada ganglion otonom yang berupa penurunan pembentukan asetil-kolin yang disebabkan terutama oleh penurunan enzim utama kolin-asetilase.
• Terdapat perubahan morfologis yang mengakibatkan pengurangan jumlah reseptor kolin
Hal ini menyebabkan predeposisi terjadinya hipotensi postural, regulasi suhu sebagai tanggapan atas panas/dingin terganggu, otoregulasi disirkulasi cerebral rusak sehingga mudah terjatuh.

X. Perubahan Anatomik pada Organon Visus
1. Palpebra.
Dengan bertambahnya usia akan menyebabkan kekendoran seluruh jaringan kelopak mata. Perubahan ini yang juga disebut dengan perubahan involusional terjadi pada:
• M.orbikularis okuli
Perubahan pada m.orbicularis menyebabkan peruba¬han kedudukan palbera yaitu terjadi entropion atau ekstro¬pion. Entropion /Ekstropion yang terjadi pada usia lanjut disebut entropion/ektropion senilis/involusional. Ada¬pun proses ter¬jadinya mirip, namun yang membedakan adalah perubahan pada m.orbicularis preseptal dimana pada entropion, musculus tersebut berpindah posisi ke tepi bawah tarsus, sedangkan pada ektropion musculus tersebut relatif stabil.
• Retraktor palpebra inferior
Kekendoran retraktor palpebra inferior mengakibat¬kan tepi bawah tarsus rotasi /berputar kearah luar sehingga memper¬berat terjadinya entropion.
• Tarsus
Bila tarsus kurang kaku oleh karena proses atropi akan menyebabkan tepi atas lebih melengkung ke dalam sehing¬ga entropion lebih nyata.
• Tendo kantus medial/lateral
Perubahan involusional juga mengenai tendon kantus media/lateral sehingga secara horizontal kekencangan palpebra berkurang.
Perubahan pada jaringan palpebra juga di perberat dengan keadaan dimana bola mata pada usia lanjut lebih enoftalmus karena proses atropi lemak peri orbita. Akibatnya keken¬cangan Palpebra secara horizontal relatif lebih nyata. Jadi apakah proses involusional tersebut menyebabkan margo palpebra menjadi inversi atau eversi tergantung pada peru¬bahan–perubahan yang terjadi pada m.orbicularisoculi, retraktor palpebra inferior dan tarsus.
• Aponeurosis muskulus levator palpebra
Aponeurosis m.levator palpebra mengalami disinsersi dan terjadi penipisan, akibatnya terjadi blefaroptosis akuisita.


• Kulit
Pada usia lanjut kulit palpebra mengalami atropi dan kehi¬langan elastisitasnya sehingga menimbulkan kerutan dan lipatan kulit yang berlebihan. Keadaan ini biasanya di perberat dengan terjadinya perenggangan septum orbita dan migrasi lemak preaponeurotik ke anterior. Keadaan ini bisa terjadi pada palpebra superior maupun inferior dan disebut dengan dermatokalasis.

2. Glandula lakrimalis
Pada usia lanjut sering dijumpai keluhan nrocos, ini di¬sebab¬kan kegagalan fungsi pompa sistem kanalis lakrimalis oleh karena kelemahan palpebera, eversi punctum atau malposisi pal¬pebra. Namun sumbatan sistim kanalis lakrimalis yang sebenarnya atau dacryostenosis sering juga dijumpai, dimana dikatakan bahwa dacryostenosis akuisita tersebut lebih banyak dijumpai pada wanita dibanding pria. Adapun patogenesis yang pasti terjadinya sumbatan ductus nasolakrimalis masih belum jelas, namun diduga oleh karena terjadi proses fibrotik dan berakibat terjadinya sumbatan.
Setelah usia 40 tahun khususnya pada wanita pasca meno¬pause sekresi basal kelenjar lakrimal tak menunjukkan gejala epifora oleh karena volume air matanya sedikit. Akan tetapi bilamana sumbatan sistim lakrimalis tak nyata akan memberi keluhan mata kering yaitu adanya rasa tidak enak seperti terdapat benda asing atau seperti ada pasir, mata terasa lelah dan kering bahkan kabur. Sedangkan gejala obyektif yang didapatkan adalah konjungtiva bulbi kusam dan menebal kadang hiperaemi, pada kornea didapatkan erosi dan filamen. Pemeriksaan yang perlu dilakukan adalah Schirmer, Rose Bengal, “Tear film break up time”.

3. Kornea (Cornea)
Arkus Senilis (Gerontoxon, Arcus Cornea)
Merupakan manifestasi proses penuaan pada kornea yang sering dijumpai. Keberadaan arcus senilis ini tidak memberikan keluhan, hanya secara kosmetik sering menjadi masalah. Kelainan ini berupa infiltrasi lemak yang berwarna keputihan, berbentuk cincin dibagian tepi kornea. Mula-mula timbulnya dibagian inferior kemudian diikuti bagian superior berlangsung luas dan akhirnya berbentuk cincin (anulus senilis).
Etiologi arkus senilis diduga ada hubungannya denga pening¬katan kolesterol dan low density lipoprotein (LDL). Bahan yang membentuk cincin tersebut terdiri dari ester kolesterol, kolesterol dan gliserid. Arkus senilis mulai dijumpai pada usia 40–60 tahun dan terjadi pada hampir pada semua orang yang berusia diatas 80 tahun dimana laki-laki lebih awal timbulnya dibanding wanita.

4. Muskulus siliaris (Musculus Ciliaris)
Dengan bertambahnya usia, bentuk dari muskulus siliaris mengalami perubahan. Pada masa kanak-kanak muskulus tersebut cenderung datar, namun semakin bertambah usia seseorang serabut otot dan jaringan ikatnya bertambah sehingga muskulus tersebut menjadi lebih tebal, terutama bagian inferior. Proses tersebut berlanjut dan mencapai tebal maksimal pada usia lebih kurang 45 tahun. Setelah itu terjadi proses degenerasi dimana maskulus ter¬sebut mengalami proses atropi, juga hialinisasi. Tampak pening¬katan jaringan ikat diantara serabut-serabut muskulus siliaris dan nukleusnya menipis. Tampak pula butiran lemak dan deposit kalsium diantara serabut muskulus tersebut.
Dengan bertambahnya usia terjadi penurunan amplitudo akamodasi dengan manifestasi klinis yaitu presbiopia. Penurunan amplitudo akomodasi ini dikaitkan dengan perubahan serabut lensa yang menjadi padat dan kapsulnya kurang elastis, sehingga lensa kurang dapat menyesuaikan bentuknya. Untuk mengatasi hal ter¬sebut muskulus siliaris mengadakan kompensasi sehingga menga¬lami hipertropi. Proses ini terus berlanjut dengan semakin bertam¬bahnya usia sehingga terjadi manifestasi presbiopia.

5. Humor Aqueous
Pada mata sehat dengan pemeriksaan fluorofotometer diper¬kirakan produksi H.Aqueous 2,4 l+/_ 0,06 micro liter/menit. Beberapa faktor berpengaruh pada pada produksi H.Aqueous. Dengan pemeriksaan fluorofotometer menunjukkan bahwa dengan bertambahnya usia terjadi penurunan produksi H.Aqueous 2% (0,06 micro liter/menit) tiap dekade.

6. Lensa Kristalina
Bentuk lensa cakram biconvex; berukuran diameter 9 mm dan tebal bagian sentral 4mm. Bagian-bagiannya adalah: kapsul, korteks, nukleus.
Pada usia muda lensa tidak bernukleus, pada usia 20 tahun nucleus mulai terbentuk. Semakin bertambah umur nuleus makin membesar dan padat, sedangkan volume lensa tetap, sehingga bagian korteks menipis, elastisitas lensa jadi berkurang, indeks bias berubah (membias sianar jadi lemah). Lensa yang mula-mula bening transparan, menjadi tampak keruh (Sklerosis) berwarna kekuning-kuningan ini mungkin yang menyebabkan kekurang mampuan membedakan warna antara biru dan purple. Kekeruhan lensa yang disertai gangguan visus disebut katarak.

7. Iris
Mengalami proses degenerasi, menjadi kurang cemerlang dan mengalami depigmentasi tampak ada bercak berwarna muda sampai putih dan strukturnya menjadi lebih tebal.

8. Pupil
Konstriksi, mula-mula berdiameter 3mm, pada usia tua terjadi 1 mm, reflek direk lemah, kemampuan akomodasi menurun. Pupil pada orang muda menghantar sinar 6x lebih besar dibanding orang ber-usia 80 tahun. Pada tempat yang gelap orang yang berusia 20 tahun menerima sinar 16x lebih besar.

9. Badan Kaca (Corpus Vitreum)
Pada usia diatas 50 tahun badan kaca akan mengalami liquefaksi (sineresis), kavitasi namun dibagian tepi justru menga¬lami kondensasi dan penebalan serta lepasnya membran hyaloid dari retina maupun kapsul lensa belakang. Konsistensi badan kaca lebih encer, dapat menimbulkan keluhan photopsia (melihat kilatan cahaya saat ada perubahan posisi bola mata).

10. Retina
Terjadi degenerasi (Senile Degenaration). Gambaran Fundus mata yang mula-mula merah jingga cemerlang menjadi suram dan ada jalur berpigmen (Tygroid Appearance) terkesan seperti kulit harimau. Jumlah sel fotoreseptor berkurang sehingga adaptasi gelap dan terang memanjang dan terjadi penyempitan lapangan pandang, ini disebabkan terlambatnya regenerasi dari rodopsin.

11. Syaraf Optik (Nervus Opticus)
Jumlah akson syaraf optik berkurang dan ada penambahan jaringan ikat, warna papil Syaraf optik lebih pucat. Atrofi peri¬papiler, depigmentasi sekeliling papil menimbulkan warna pucat sekeliling papil.

XI. Perubahan Anatomik pada Organon Auditus
Dengan makin lanjutnya usia terjadi degenerasi primer di organ corti berupa hilangnya sel epitel syaraf yang dimulai pada usia pertengahan. Juga dilaporkan bahwa keadaan yang sama terjadi pula pada serabut aferen dan eferen sel sensorik dari kokhlea. Disamping itu juga terdapat penurunan elastisitas mem¬bran basalis di kokhlea dan membran timpani. Pasokan darah dari reseptor neuro-sensorik mengalami gangguan, sehingga baik jalur audiotorik dan lubus temporalis otak sering terganggu, dari pen¬jelasan diatas terlihat bahwa gangguan pendengaran pada usia lanjut dapat disebabkan oleh berbagai sebab antara lain: gangguan pendengaran tipe konduktif, adalah gangguan bersifat mekanik, sebagai akibat dari kerusakan kanalitas auditorius, membran timpani atau tulang pendengaran. Salah satu penyebab gangguan pendengaran tipe konduktif yang terjadi pada usia lanjut adalah adanya serumen obturans, yang justru sering dilupakan pada pemeriksaan. Hanya dengan membersihkan lubang telinga dari serumen ini pendengaran bisa menjadi lebih baik.

Kesimpulan
1. Proses menua disebabkan oleh faktor intrinsik, yang berarti terjadi perubahan struktur anatomik dan fungsi sel maupun jaringan disebabkan oleh penyimpangan didalam sel/jaringan dan bukan oleh faktor luar (penyakit). Menghambat penuaan berarti mempertahankan struktur anatomi pada suatu tahapan kehidupan tertentu sepanjang mungkin maka untuk ini diper¬lukan penguasaan ilmu anatomi
2. Terjadinya perubahan anatomik pada sel maupun jaringan tiap saat dalam tahapan kehidupan menunjukan bahwa anatomi adalah ilmu yang dinamis.
3. Anatomi adalah ilmu dasar yang selalu menjadi dasar dari ilmu yang berkembang kemudian, mengembangkan ilmu anatomi berarti membina ilmu masa depan.

Rabu, 09 Desember 2009

10 Tips untuk Menangani Anak yang Susah Makan

Apakah anak anda hanya mau makan 1 jenis makanan saja ? atau apakah balita anda lebih memilih bermain ketimbang makan ? itulah yang kerap dialami oleh orang tua yang mempunyai anak yang susah makan.
Berikut adalah beberapa tips bagi orang tua untuk menghadapi anak yang susah makan :

1. Perhatikan nafsu makan anak
Anak-anak cenderung untuk makan hanya saat merasa lapar. Jika anak tidak merasa lapar, jangan paksakan untuk makan atau ngemil ataupun menghabiskan makanan yang ada di piringnya.

2. Buatlah rutinitas waktu makan
Makanlah pada waktu yang sama setiap hari. Sediakan susu, jus buah atau makanan kecil setidaknya 1 jam sebelum makan jangan mendekati waktu makan. Bila anak merasa lapar, maka ia akan lebih banyak menghabiskan makanannya.

3. Bersabarlah saat mengenalkan anak dengan makanan yang baru
Anak-anak saat berhadapan dengan makanan baru, seringkali menyentuh atau bahkan mencium kemudian merasakan sedikit makanan tersebut untuk kemudian ditaruh kembali. Anak mungkin memerlukan bujukan yang berulang kali mengenai makanan tersebut, cobalah bujuk anak dengan menceritakan mengenai aroma, warna ataupun bentuk dari makanan tersebut daripada hanya mengatakan rasanya lezat.

4. Buat makanan menjadi menyenangkan
Potong sayuran dan buah menjadi berbagai bentuk dengan menggunakan cetakan kue yang berbentuk binatang lucu ataupun bunga

5. ajaklah anak untuk membantu menyiapkan makanan
Dengan mengajak anak untuk berpartisipasi dalam berbelanja misalnya dengan memilih buah atau sayuran dapat membuat anak menjadi lebih tertarik pada makanan tersebut.

6. Berilah contoh yang baik bagi anak
Jikamenyuruh anak untuk memakan sayuran maka sebaiknya kita pun makan sayuran tersebut. Dengan melihat contoh yang ada maka anak akan meniru kebiasaan tersebut.

7. Pintar-pintarlah untuk mengkreasikan makanan
Untuk anak yang tidak suka makan sayuran atau buah misalnya, dapat dikreasikan dengan menambahkan sayuran tersebut dalam makanan yang disukai anak seperti menambahkan buah kedalam pudding atau menambahkan sayuran dalam cemilan anak.

8. Hindari hal yang dapat mengganggu konsentrasi anak
Matikan TV saat waktu makan, atau jangan letakkan buku atau mainan dekat meja makan sehingga anak terkonsentrasi penuh pada makanannya.

9. Jangan menggunakan makanan manis sebagai hadiah
Menyembunyikan makanan manis dapat membuat anak mengira bahwa makanan tersebut adalah makanan terbaik yang dapat membuat anak menjadi lebih berselera terhadap makanan manis. Berikan makanan manis 2-3 kali seminggu atau gantilah makanan manis tersebut dengan makanan lain seperti buah atau yoghurt.

10. Jangan selalu mengikuti kemauan anak
Apabila anda telah menyiapkan makanan tertentu, kemudian ternyata anak menolaknya, jangan langsung mengganti makanan tersebut karena dapat membuat anak menjadi pemilih terhadap makanannya. Sebaiknya tetap hidangkan makanan tersebut hingga anak menjadi terbiasa dan menginginkannya.
di kutip dari : www.medicastore.com

Sabtu, 29 November 2008

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Merokok pada Remaja

M eski semua orang tahu akan bahaya yang ditimbulkan akibat merokok, perilaku merokok tidak pernah surut dan tampaknya meru- pakan perilaku yang masih dapat ditolerir oleh masyarakat. Hal tersebut bisa dirasakan dalam kehidupan sehari-hari, seperti di lingkungan rumah, kantor, angkutan umum maupun di jalan-jalan. Hampir setiap saat dapat disaksikan dan di jumpai orang yang sedang merokok. Bahkan bila orang merokok di sebelah ibu yang sedang menggendong bayi sekalipun orang tersebut tetap tenang menghembuskan asap rokoknya dan biasanya orang-orang yang ada disekelilingnya seringkali tidak perduli.
Membicarakan rokok tidak terlepas dari unsur utama rokok itu sendiri, yaitu tembakau. Penggunaan tembakau terus berlanjut sebagai bahan yang menyebabkan kerusakan pada kesehatan manusia. Menurut data WHO, saat ini terdapat 1,3 miliar perokok di dunia dan 84 persen di antaranya berasal dari dunia ketiga. Meski begitu, di negara besar sekaliber AS, kampanye antirokok hanya berhasil di dunia pendidikan. saham-saham rokok di AS justru meningkat setelah pengadilan menolak klaim pemerintah 280 miliar dolar AS tentang dugaan kebohongan dalam bahaya rokok (BBC, 5/2/05).
Tembakau dapat menyebabkan sekitar 8,8 persen kematian (4,9 juta) dan sekitar 4,1 persen menyebabkan penyakit (59,1 juta) dari seluruh dunia. Jika kecenderungan ini tidak berbalik, maka angka-angka tersebut akan meningkat hingga 10 juta kematian per tahun mulai tahun 2020, atau pada awal 2030, dengan 70 persen kematian terjadi di negara-negara berkembang.
Indonesia yang merupakan anggota WHO telah merespons secara positif tentang pemberian perlindungan kepada masyarakat khususnya perlindungan hak asasi masyarakat yang tidak merokok. Peraturan pemerintah (PP) yang ada saat ini masih sangat ketinggalan dibandingkan dengan negara tetangga seperti Myanmar, Thailand, dan Malaysia yang lebih maju dalam melindungi rakyatnya dari dampak buruk akibat kebiasaan merokok.
http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=202433&kat_id=318

Di negara-negara maju, jumlah perokok justru semakin berkurang dan tempat-tempat yang diperbolehkan merokok semakin dibatasi. Hal tersebut disebabkan di negara-negara maju telah mengerti dan menyadari akan bahaya dan dampak rokok, terutama dampak dari segi kesehatan. Sementara di negara kita, cenderung terjadi salah pemahaman dan menganggap merokok adalah tren yang ada di negara maju. Di negara maju seperti Jepang, perokok hanya boleh merokok di tempat yang disediakan. Dan tempat-tempat ini sangat terbatas dan biasanya dari segi kesehatan tidak sehat, karena kentalnya bau asap rokok. Akibat hal tersebut perokok itu sendiri terkadang juga merasakan, sehingga memungkinkan menjadi penyebab berhentinya merokok
Sekitar separuh dari para perokok akan meninggal akibat kebiasaan merokok, dan separuh dari kematian ini akan terjadi pada usia pertengahan saat mereka sedang dalam puncak produktivitas. Secara umum mereka yang meninggal akibat kebiasaan merokok akan kehilangan 20-25 tahun kehidupannya akibat kebiasaan yang merugikan ini.

Adanya selang waktu 20-25 tahun antara mulai merokok dan timbulnya penyakit yang ditimbulkannya menyebabkan dampak tersebut tidak disadari. Rokok kretek mengandung tembakau sebanyak 60-70 persen sehingga memiliki risiko kesehatan yang sama dengan produk tembakau lainnya.
Mitos yang berkembang di masyarakat adalah larangan merokok melanggar hak asasi seseorang. Tetapi faktanya, menurut WHO dan Depkes, merokok di tempat umum melanggar hak orang lain untuk menikmati udara bersih dan menyebabkan gangguan kesehatan pada orang yang tidak merokok. WWW.GIZI.NET/cgi-bin/berita/fullnews.cgi?newsid1086667350,88135
Pada tahun 2001 Depkes mengestimasikan bahwa perokok aktif mencapai 70 persen dari penduduk Indonesia, 60 persennya (84 juta orang) dari kalangan penduduk miskin dan sedang kematian akibat sakit ditimbulkan rokok per tahun mencapai 58 ribu orang.

Organisasi Kesehatan Sedunia (WHO) memperkirakan tiap tahun terdapat empat juta orang meninggal akibat penyakit karena merokok dan pada 2020, angka orang meninggal karena rokok bertambah menjadi 8,4 juta per tahun.
WHO memperkirakan bahwa 59 persen pria berusia di atas 10 tahun di Indonesia telah menjadi perokok harian, dan konsumsi rokok Indonesia setiap tahun mencapai 199 miliar batang rokok atau urutan ke-4 setelah RRC (1.679 miliar batang), AS (480 miliar), Jepang (230 miliar), dan Rusia (230 miliar).
Menurut perkiraan WHO, kenaikan jumlah perokok Indonesia, khususnya anak usia muda, karena gencarnya iklan rokok melalui berbagai media, sponsorship pada kegiatan olahraga, dan hiburan.
Sebagian besar perokok di Indonesia menyatakan sulit menghentikan merokok dengan alasan untuk kenikmatan, terkesan “keren” dan gengsi yang tinggi serta alasan menghilangkan stres (depresi).
(www.kompas.cm/kompas-cetak/0101/28/ENGLISH/)

Banyak faktor yang mendasari seseorang untuk berperilaku sesuai dengan persepsi dan latar belakang orang tersebut, begitu juga dalam perilaku merokok seseorang. Menurut Rosenstock (1950-an) dalam teorinya ‘Health Belief Model’, perilaku sehat seseorang dipengaruhi oleh persepsinya, diantaranya yaitu perceived susceptibility, perceived severity, Perceived Benefits (cost), Perceived Barriers, Cues to action, Self-Efficacy.


Senin, 27 Oktober 2008

Peringatan tanda & tips untuk pencegahan stroke

Apakah yang dimaksud dengan stroke?
Sebagian besar disebabkan oleh kenyataan yang halangan dalam arteri yang membawa darah ke thebrain. Hal ini dapat menyebabkan bahwa bagian dari otak menjadi rusak, dan Anda mungkin salah satu fungsi dari losecontrol yang dikendalikan oleh bahwa bagian dari otak. Forexample, Anda dapat kehilangan penggunaan lengan atau kaki, atau kemampuan untuk speak.The kerusakan dapat sementara atau permanen, sebagian atau lengkap. Havefound dokter bahwa jika Anda mendapatkan perawatan segera setelah gejala mulai, ada abetter kesempatan untuk mendapatkan darah bergerak ke otak, dan kurang peluang kerusakan.

Bagaimana saya tahu jika saya memiliki stroke?
Jika Anda memiliki salah satu dari gejala berikut, untuk panggilan darurat helpimmediately. Semakin cepat anda mendapatkan bantuan, semakin banyak dokter dapat lakukan untuk preventfurther atau kerusakan permanen.
* Mendadak kelemahan atau rasa pada wajah, lengan atau kaki pada satu sisi thebody
* Mendadak keremangan atau kehilangan visi, terutama dalam satu mata
* Kehilangan bicara, kesulitan berbicara atau memahami apa yang dikatakan orang lain
* Mendadak sakit kepala parah tanpa diketahui menyebabkan
* Tak diterangkan pusing, tidak stabil berjalan atau jatuh, terutama di sepanjang withany dari gejala lainnya

Tanda peringatan lain dari stroke disebut sebagai serangan sementara ischemic (TIA). A TIA adalah "mini-stroke" yang dapat menyebabkan gejala yang tercantum aboveand mungkin hanya beberapa menit terakhir, tetapi tidak boleh diabaikan. Orang yang mempunyai TIA adalah risiko yang lebih tinggi dari yang kuat nanti. Doctorimmediately panggilan Anda jika Anda pikir apa yang memiliki TIA.

Faktor risiko untuk stroke
* Atherosclerosis (memperketat dari arteri)
* Tak terkendalikan diabetes * tekanan darah tinggi
* Tinggi tingkat kolesterol * Merokok
* Sebelumnya sementara serangan ischemic (TIA)
* Penyakit Jantung
* Pembuluh nadi kepala penyakit (yang arteri yang membawa darah ke otak)

Bagaimana saya bisa menghindari memiliki stroke?
Berbicara dengan dokter keluarga Anda tentang faktor risiko untuk stroke dan bagaimana Anda toreduce risiko. Berikut ini adalah beberapa hal-hal lain yang dapat Anda lakukan untuk menghindari memiliki astroke:
* Jika Anda adalah tekanan darah tinggi, ikuti saran dokter Anda untuk mengendalikan itu.
* Hindari makanan yang tinggi dalam lemak dan kolesterol, dan kurang makan sodium (garam), Anda untuk menurunkan kolesterol dan tekanan darah.
* Jika Anda menderita diabetes, menjaga tingkat gula darah di bawah kontrol.
* Batas berapa banyak minum alkohol Anda.
* Keluar merokok. Jika anda tidak merokok, tidak memulai.

Anda meminta saran dokter untuk membuat perubahan gaya hidup ini, dan askfriends dan dukungan bagi keluarga. Regular check up adalah penting untuk findproblems yang dapat meningkatkan risiko Anda memiliki stroke. Bicara doctorabout apakah Anda untuk mengambil aspirin dalam dosis rendah akan membantu Anda mengurangi risiko ofstroke atau TIA. Aspirin dapat membantu menjaga darah dari membentuk clots yang caneventually memblokir arteri. (AAFP)
Dengan konsultasi-Kesehatan di 9:02 10 komentar
Mencegah flu
Mencegah Flu

Apakah influenza? Influenza (juga disebut "selesma") adalah virus infeksi di hidung, throatand paru-paru. Sekitar 10% sampai 20% dari Amerika mendapat flu setiap tahun. Beberapa orang menjadi sangat sakit. Setiap tahun, sekitar 130.000 orang pergi ke rumah sakit dengan theflu, dan 20.000 orang yang mati karena flu dan complications.The flu dapat menyebabkan demam, batuk, sakit tenggorokan, yang basah atau buntu, sakit kepala, otot aches dan tiredness. Beberapa orang menjelaskan flu sebagai beinglike dingin yang terburuk dalam kehidupan mereka. Kebanyakan orang merasa lebih baik setelah 1 atau 2weeks. Tetapi untuk beberapa orang, yang mengarah ke flu serius, bahkan jiwa, penyakit, seperti radang paru-paru. Vaksin influenza (flu yang shot) recommendedfor adalah orang yang lebih besar untuk mendapat sakit untuk melindungi mereka dari theflu.

Siapa yang berisiko tinggi? Beberapa orang memiliki risiko tinggi flu komplikasi, seperti radang paru-paru. Jika youare di salah satu dari kelompok ini, Anda harus mendapatkan vaksin flu setiap tahun:
* Semua anak-anak berusia 6 hingga 59 bulan
* Semua orang dewasa berusia 65 tahun dan lebih tua
* Semua perempuan yang akan atau sedang hamil selama musim flu
* Warga di rumah perawatan dan jangka panjang fasilitas perawatan
* Individu yang memiliki jangka panjang masalah kesehatan
* Anak-anak berusia 6 bulan hingga 18 tahun yang kronis pada terapi aspirin
* Petugas kesehatan juga yang langsung kontak dengan pasien
* Wali dan rumah tangga kontak dari anak-anak kurang dari usia 6 bulan

Bagaimana saya bisa menghindari mendapatkan flu?
Yang cara terbaik untuk menghindari mendapatkan flu adalah untuk mendapatkan vaksin eachfall influenza, sebelum musim flu. Vaksin ini tersedia dengan tembakan atau oleh nasalspray. Vaksin bekerja dengan exposing sistem kekebalan tubuh Anda ke tubuh akan flu virus.Your membangun antibodi untuk virus untuk melindungi Anda dari flu gettingthe. Selesma tembakan mengandung virus mati. Yang sengau-semprot vaccinecontains virus hidup tetapi lemah. Anda tidak dapat mendapatkan flu dari flu shotor yang sengau semprot vaccine.Some-orang yang mendapatkan vaksin masih akan mendapatkan flu, tetapi mereka willusually mendapatkan milder kasus dari orang yang tidak divaksinasi. Vaksin isespecially disarankan untuk orang-orang yang lebih besar untuk mendapat sickfrom flu terkait komplikasi.

Apakah ada seseorang yang seharusnya tidak mendapatkan flu shot?
Ya. Orang-orang berikut ini harus berbicara dengan dokter mereka sebelum mendapatkan flushot:
* Orang yang telah alergi reaksi terhadap flu tembakan di masa lalu
* Teman dengan alergi terhadap telur
* Orang yang sebelumnya dikembangkan Guillain-Barré Syndrome (a reversiblereaction yang menyebabkan hilangnya sebagian atau lengkap gerakan dari otot, kelemahan atau geli sensasi di tubuh) dalam 6 minggu mendapatkan aflu tembakan

Apakah ada seseorang yang seharusnya tidak mendapatkan vaksin sengau-spray?
Ya. Orang-orang berikut ini harus berbicara dengan dokter mereka sebelum mendapatkan vaksin thenasal-semprot:
* Anak kurang dari 5 tahun
* Dewasa 50 tahun dan lebih tua
* Teman jangka panjang dengan masalah kesehatan
Teman * dengan melemahkan sistem kekebalan tubuh
* Anak-anak berusia 6 bulan hingga 18 tahun yang kronis pada terapi asprin
Teman * dengan sejarah Sindrom Guillain-Barré
* Hamil perempuan
* Orang yang telah alergi reaksi terhadap vaksin flu di masa lalu orto telur

Jika saya mendapatkan vaksin flu, apakah saya masih bisa mendapatkan flu?
Ya. Bahkan dengan vaksin flu, Anda tidak 100% dilindungi. Setiap tahun, yang fluvaccine berisi 3 berbeda strains (macam) dari virus. Strainschosen yang adalah orang-orang yang beriman ilmuwan yang paling mungkin muncul thatyear. Jika pilihan yang tepat, vaksin adalah 70% hingga 90% efektif dalam inpreventing selesma sehat orang di bawah usia 65 tahun. Jika Anda olderthan 65, vaksin ini lebih besar untuk mencegah flu. Bahkan jika Anda mendapatkan theflu setelah vaksin, gejala flu Anda harus milder jika dibandingkan youdidn't mendapatkan vaksin. Anda juga akan lebih besar untuk mendapatkan komplikasi fromthe flu.

Apakah vaksin ini aman?
Ya. Vaksin flu yang aman. Terdapat sangat sedikit efek samping. Jika Anda gotthe flu shot, Anda mungkin lengan sakit selama beberapa hari. Anda mungkin mengalami demam, merasa lelah atau sakit otot dalam jangka waktu singkat. Jika Anda mendapatkan sengau-sprayvaccine, Anda mungkin memiliki pilek, sakit kepala, batuk atau sakit tenggorokan.

Dapatkah saya mendapatkan vaksin flu jika saya sedang hamil atau perawatan?
Jika anda sedang hamil selama musim flu, Anda tidak dapat mendapatkan sengau-sprayvaccine. Namun, dianjurkan bahwa perempuan yang hamil akan mendapatkan duringflu musim tembakan. Kehamilan dapat meningkatkan risiko Anda untuk complicationsfrom flu.It yang juga aman untuk mendapatkan flu shot sementara payudara Anda makan bayi. Flushot yang tidak dapat menyebabkan Anda atau Anda untuk mendapatkan perawatan bayi sakit.

Apa flu antiviral adalah obat?
Antiviral flu obat-obatan resep obat-obatan yang dapat digunakan untuk helpprevent dan / atau perawatan flu. Ada empat antiviral flu obat: amantadine, oseltamivir, rimantadine dan zanamavir. 4 dari semua antiviraldrugs ini telah disetujui untuk merawat flu. Jika Anda mengambil satu ini drugswithin 2 hari mendapatkan sakit, Anda dapat mengurangi gejala, penurunan theamount waktu anda sakit dan membuat anda kurang menular ke orang lain.

Namun, sebagian besar orang sehat yang sedang flu mendapatkan lebih baik tanpa menggunakan obat flu anantiviral. Dokter akan memutuskan apakah ini salah satu medicinesis tepat untuk Anda.

Tiga dari antiviral flu narkoba juga telah disetujui untuk mencegah flu.
Obat ini tidak pengganti untuk vaksin influensa. Mereka adalah mostoften digunakan untuk pencegahan flu di lembaga di mana orang-orang di beresiko tinggi forflu komplikasi berada di dekat kontak satu sama lain, seperti nursinghomes atau rumah sakit. Misalnya, saat wabah flu di sebuah rumah sakit swasta, warga dan staf mungkin diberi vaksin flu dan obat antiviral yang toprevent sampai vaksin flu mulai berlaku. (AAFP)
Dengan konsultasi-Kesehatan di 8:24 2 komentar
Minggu, 15 April 2007
Lymphadenitis
Lymphadenitis adalah inflamasi satu atau lebih Kelenjar getah bening yang bengkak dan usuallybecome tender.

Lymphadenitis hampir selalu disebabkan oleh infeksi, yang mungkin karena tobacteria, virus, protozoa, rickettsiae, atau jamur. Biasanya, infectionspreads ke node getah bening dari kulit, telinga, hidung, mata atau infeksi atau fromsuch infeksi seperti infeksi mononucleosis, Sitomegalovirus infeksi, streptococcal infeksi, tuberculosis, atau sipilis.

Infeksi Mei affectmany Kelenjar getah bening atau hanya ada di satu kawasan tubuh.

Gejala dan DiagnosisInfected Kelenjar getah bening memperbesar dan biasanya tender dan menyakitkan. Kadang-kadang, kulit yang terinfeksi lebih dari node tampak merah dan terasa hangat. Kadang-kadang, dari kantong nanah (abscesses) berkembang. Diperbesar Kelenjar getah bening yang tidak producepain, kesakitan, atau kemerahan dapat menunjukkan kekacauan yang serius, seperti aslymphoma, TBC, atau penyakit Hodgkin,.

Kelenjar getah bening tersebut adoctor memerlukan perhatian. Biasanya, lymphadenitis dapat didiagnosis berdasarkan gejala, dan itscause jelas merupakan infeksi di dekatnya. Bila tidak dapat menyebabkan identifiedeasily, yang pernah (dan mengakibatkan pemeriksaan sampel sebuah jaringan di bawah amicroscope) dan budaya mungkin diperlukan untuk mengkonfirmasikan diagnosis dan toidentify organisme yang menyebabkan infeksi.

Perawatan dan PrognosisTreatment tergantung pada organisme yang menyebabkan infeksi. Untuk bacterialinfection, sebuah antibiotik biasanya diberikan melalui urat nadi atau secara lisan.

Warmcompresses dapat membantu meringankan sakit di inflamed Kelenjar getah bening. Biasanya, Ketika infeksi telah dirawat, Kelenjar getah bening yang perlahan mengecil, dan painsubsides. Kadang-kadang diperbesar node tetap kokoh tetapi tidak lagi feeltender. Abscesses harus ditiriskan surgically. (Merck)